Sabtu, 20 Oktober 2012

Sejarah TASURA


Mereka yang berjasa dalam perjalanan tari cintaku


( Whirling Dharwish)


"Dibalik Sejarah Tari Sufi Jepara"

oleh Abi Husna pada 21 Oktober 2012 pukul 8:44 ·

Tari Sufi Jepara
Tari Sufi Jepara

Ada hal yang aneh pada sa’at ada acara Jepara Bersholawat pada tahun 2010, bersama Habib Syeh dan Syeh Hisyam Kabbani dari Amerika, yaitu pada sa’at makhalul qiyam dimana ada beberapa Dharwis (murid thoriqoh) menari berputar-putar. Pada saat itu, saya hanya bisa terpena kagum, serta bertanya dalam hati, kok tidak pusing dan muntah-muntah?. Terbayang olehku saat itu, untuk bisa menari seperti itu,  dan  saya harus bisa tarian seperti itu. Beberapa bulan kemudian aku baru tahu tarian itu dinamakan Whirling Dharwhis atau di Indonesia terkenal dengan nama Tari Sufi. Dimana tarian tersebut merupakan ritual dzikir Thariqah Maulawiyah dari Maulana Jalaluddin Rumi yang mengajaran tentang Cinta itu.
Tanpa sengaja sa’at membuka Facebook, saya melihat foto K.H. Drs. Amin Budi Harjono Semarang sedang menari sufi. Saya langsung berkenalan dan minta di ajari tari tersebut, beliau menyanggupi dan berjanji jika ada acara di Jepara beliau akan mampir ke PP. Nailun Najah untuk mengajari menari sufi. Dan akhirnya ketika beliau mengisi pengajian di Masjid Baiturrohman 2 Robayan, beliau mampir dan mengajari beberapa orang termasuk saya, dan menyuruh untuk menyebarkan tarian ini kepada siapa saja. Dan akhirnya beliau meminta agar PP. Nailun Najah Kriyan di jadikan basis latihan tari ini.

Setelah latihan singkat tersebut, kami sepakat setiap malam Jum’at latihan bersama, pusing, terjatuh, muntah muntah bahkan kepala terbentur tembok, menjadi awal ujian saya latihan, saya masih ingat setelah latihan pasti kepala pusing, perut mual sampai berhari-hari, Ketika saya Inbox Pak Kiai Budi lewat FB kenapa masih pusing dan mual, beliau menjawab “ Teruslah latihan, belilah kemapanan dengan kepusingan”.  Akhirnya saya mendownload video dari Youtube untuk kami gunakan latihan. Walaupun gerakan masih kaku, tidak enak dilihat, belum mempunyai kostum whirling hanya bersarung dan berpeci kuncung seharga Rp. 15000,- tapi Pak Kiai Budi, tetap mengajak saya dan teman-teman untuk tampil di berbagai acara pengajian yang beliau isi, inilah yang menjadikan semangat saya untuk tidak putus asa dalam latihan dan melawan pusing.

Setiap saya tampil biasanya saya merekam lewah HP, lalu hasilnya ku perlihatkan kepada istriku, Mu’atiqoh, dia memberikan dukungan penuh serta melijitkan semangatku dengan kritikkannya yang cukup “pedas” setiap melihat Video ketika aku menari yang masih kaku, sempoyongan,bahkan raut wajah yang tegang dan menakutkan.

Aku masih ingat, ketika saya sudah bisa menari dan belum punya kostum lalu bertanya-tanya teman-teman lewat FB, berapa harganya,  ternyata cukup mahal Rp. 700.000,-, dan itu tidak mungkin terbeli,  karena keinginan itu,  sampai-sampai ketika tidur, aku sering mengigau ingin punya kostum, melihat kedaanku seperti itu, istriku berjanji akan membuatkannya, lalu  istriku ku perlihatkan  video dari Youtube untuk mempelajari bentuk kostumnya.

Uangku hanya Rp.50.000,- tidak mungkin cukup untuk beli kain, hanya cukup untuk beli benang, busa dan kain kasa, untuk kainnya istriku merelakan kain sepri kasur untuk digunakan sebagai kostum, itupun hanya bawahannya. Ketika istriku mulai mengemal, memotong dan menjahit aku tunggui disampingnya, yang terbayang adalah aku menari dengan kostum whirling.

Setelah selesai, langsung kupakai, kuputarkan tubuh kearah kiri ternyata kostumnya tidak bisa “mekar”, kucoba lagi dan ku coba lagi tetap tidak bisa ! gagal ! gagal !, aku sangat kecewa, melihat aku kecewa istriku merasa bersalah bahkan putus asa untuk menbuatkan kostum lagi. Hampir satu minggu kostum itu dibiarkan tergeletak dibawah kolong tempat tidur.

Putus asa muncul dalam benakku, aku tidak mau latihan serta tamat sudah keinginanku menjadi penari sufi, ku lihat istriku sering melihat Vedio whirling dan tak tau apa yang terbayang dikepalanya, seingatku jam 12 Malam ketika anak-anak sudah tidur, istruku mengambil kostum whirling yang telah gagal, di ” dedel” lagi jahitannya, dipotong lagi dan dijahit lagi, ku lihat istriku selesai menjahit menjelang adzan subuh. Setelah sholat subuh berjama’ah, istriku menyuruh aku untuk mencoba lagi, dan ternyata bisa “mekar”, berhasil…berhasil…aku tersenyum bahagia…sebagai tanda terimasih aku kecup keningnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan jika Kawan yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan